Home » Konservasi » Banjir Harus Dicegah Bukan Dilestarikan

Banjir Harus Dicegah Bukan Dilestarikan

October 2012
M T W T F S S
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 2,622 other followers

Blog Stats

  • 48,258 hits

Banjir merupakan masalah yang cukup pelik di Indonesia karena banjir telah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat Indonesia. Padahal banjir memberikan kerugian yang tidak sedikit baik dari segi ekonomi, sosial maupun teknis. Misalnya banjir yang terjadi 3 kali banjir yang menyebabkan kerugian besar di kota Manado, yaitu pada tahun 1996, 2000 dan 2005, banjir di Jakarta tahun 2007, banjir bandang di Aceh dan Wasior Papua, dan masih banyak lagi kejadian banjir yang lainnya. Setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan banjir di Indonesia,   yaitu :

Banjir Tahun 2007 Di Jakarta

1. Faktor Hujan

Kondisi cuaca yang terjadi saat ini hampir 43 persen dipengaruhi oleh pemanasan global, sementara selebihnya disebabkan faktor alam seperti La Nina dan El Nino”, ujar Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Edvin Aldrian di Jakarta, Senin (14/3/2011). Hal ini menyebabkan lamanya waktu siklus hidrologi dan di mana tempat kejadiannya menjadi semakin tidak menentu. Sehingga musim hujan dan kemarau di Indonesia menjadi sulit ditebak kapan datangnya. Sehingga penanggulan banjir akibat cukup sulit dilakukan karena hujan adalah faktor ekstern yang digerakkan oleh iklim makro/global. Faktor ini hanya bisa dikurangi dengan cara menjauhkan pusat pemukiman dan perekonomian dari daerah banjir yang secara historis sudah dipetakan oleh hujan. Atau dengan EWS (Early Warning System) / Sistem Peringatan Dini kepada masyarakat apabila curah hujan tinggi dan informasi tinggi genangan yang terjadi apabila terjadi hujan yang cukup tinggi, sehingga dapat meminimalisir kerugian yang terjadi, karena masyarakat sudah siap dengan kondisi yang akan terjadi.

2.  Faktor Daerah Aliran Sungai (DAS)

DAS diartikan sebagai suatu wilayah, yang dibatasi oleh batas alam, seperti punggung bukit-bukit atau gunung, maupun batas buatan, seperti jalan atau tanggul, dimana air hujan yang turun di wilayah tersebut memberi kontribusi aliran ke titik kontrol (outlet) . Sedangkan menurut Webster, DAS adalah uatu daerah yang dibatasi oleh pemisah topografi, yang menerima hujan, menampung menyimpan atau mengalirkan ke sungai dan seterusnya ke danau atau laut.

Fungsi suatu DAS merupakan fungsi gabungan yang dilakukan oleh seluruh faktor yang ada pada DAS tersebut, yaitu vegetasi, bentuk wilayah (topografi) , tanah, dan manusia. Apabila salah satu terganggu atau mengalami perubahan, maka akan mempengaruhi ekosistem DAS tersebut. Sedangkan perubahan ekosistem akan menyebabkan gangguan terhadap bekerjanya fungsi DAS.

Kondisi Daerah Aliran Sungai yang Baik

Beragamnya penerapan pola pertanian pada suatu DAS, berarti penduduk semakin banyak melakukan konversi atau perubahan vegetasi, terutama vegetasi hutan menjadi non-hutan, seperti pekarangan, perkebunan atau tanaman musiman. Sehingga  berpengaruh langsung terhadap laju erosi dan fluktuasi debit sungai. Dengan demikian, pada setiap DAS atau sub DAS yang mendapat perlakukan yang berbeda-beda akan menyebabkan setiap DAS dan  sub DAS menghasilkan erosi dan fluktuasi debit sungai yang berbeda-beda juga. Perbedaan kualitas DAS atau Sub DAS merupakan gambaran dari tingkat kerusakan yang terjadi di setiap masing-masing DAS atau Sub DAS tersebut.

Contoh Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS)

Untuk mengurangi terjadinya kerusakan DAS, masyarakat harus dapat berperan aktif dalam pengelolaan DAS, masyarakat harus sadar akan arti penting DAS bagi kondisi di daerah hilir. Menghindari melakukan usaha tani pada daerah-daerah yang memiliki kelerengan yang terjal, kegiatan peladangan yang tidak menetap (berpindah-pindah), pembukaan lahan dengan pembakaran hutan, penebangan dan pembalakan liar. Hal-hal di atas merupakan contoh yang harus dihindari dalam pemeliharaan kelestarian DAS.

3.      Faktor Pengelolaan dan Pemeliharaan Sungai dan Bangunan Air

Volume Tampungan Waduk Berkurang Akibat Sedimentasi

Dalam kurun waktu 30 tahun, Indonesia menangani banjir dengan cara konvensional yaitu dengan pelurusan sungai, sudetan, pembuatan tanggul, pembetonan dinding dan pengerasan tampang sungai, Intinya adalah mengusahakan air banjir secepat-cepatnya dikuras ke hilir, tanpa memperhitungkan banjir akan terjadi di hilir. Dan juga dalam pengoperasian dan pemeliharaan bangunan-bangunan air sangat minim bahkan tidak ada, sehingga menyebabkan fungsi dari bangunan air menjadi tidak efektif bahkan rusak sebelum umur rencana selesai. Contoh : hampir semua volume tampungan waduk di Indonesia berkurang lebih cepat akibat erosi dan sedimentasi, sungai dan drainase mengalami pendangkalan akibat erosi dan sampah yang tertimbun di dasar penampang karena tidak adanya pengerukan.

Pendangkalan Akibat Sedimentasi

Pendangkalan Akibat Sampah

Maka dari itu pengelolaan banjir di Indonesia harus menggunakan prinsip integrasi yaitu One River, One Plant and One Management. Sistem yang menggunakan satu sungai sebagai satu kesatuan wilayah hidrologis yang dapat mencakup beberapa wilayah administrasi yang ditetapkan sebagai satu kesatuan wilayah pembinaan yang tidak dapat dipisah- pisahkan, berlaku satu rencana kerja yang terpadu menyeluruh, berkelanjutan berwawasan lingkungan, diterapkan ” Satu Sistem Pengelolaan” yang dapat menjamin keterpaduan kebijakan strategi dan perencanaan serta operasional dari hulu sampai dengan hilir

4. Faktor Tata Wilayah dan Sarana Prasarana

Kesalahan yang sering dilakukan dalam perencanaan tata wilayah kota adalah penetapan pemukiman dan pusat-pusat perekonomian dan industri di daerah yang rawan banjir. Misalnya, banyaknya perumahan yang dibangun di daerah bantaran sungai, padahal dalam aturan 50 m ke kanan dan kiri bantaran sungai tidak boleh dibangun apapun dan  banyaknya pusat perekonomian dan industri yang dibangun di daerah tangkapan air atau tampungan air. Maka dari itu perlu perencanaan yang lebih matang dalam perencanaan tata wilayah yang melibatkan ahli dalam segala bidang, agar pembangunan lebih berpihak kepada aspek lingkungan. Penyusunan RTRW merupakan pijakan penting dalam menata wilayah perkotaan.

Keempat faktor di atas harus lebih diperhatikan oleh pihak-pihak yang terkait dan juga peran serta masyarakat. Karena penanganan banjir bukan hanya tugas pemerintah akan tetapi tugas bersama untuk kepentingan bersama.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: